Tugas Kami

Buku Kronjo dalam Dimensi Sejarah, Naturalisme Islam dan Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir

Posted on: April 25, 2011

KRONJO DALAM DIMENSI SEJARAH

Naturalisme Islam

Dan       

 Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir

Penyusun Buku:

  1. Dede Nurmaya
  2. Diah Ayu Safitri
  3. Triana Anisa Fitri
  4. Kartika Ayu Mawarni
  5. Maya Lestari Nur Azizah
  6. Eli Rahmawati

Kelas : 1 A Komunikasi

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmnirrahim

Assalamu’alaikum warakhmatullahi wabarokatuh

Alhamdulillah berkat kebesaran Allah serta do’a dari sahabat-sahabat semua, akhirnya buku Keronjo Dalam Dimensi Sejarah Naturalisme Islam dan Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir ini dapat sele

sai. Segala keterbatasan dan kekurangannya kami harapkan kritik dan saran agar dapat memperbaikinya.

Buku saku ini mudah-mudahan memberikan manfaat besar terutama bagi para pembaca sehingga mengetahui tempat-tempat bersejarah di wilayah Banten, buku saku ini bukanlah karya yang besar namun do’akanlah melalui buku ini akan terlahir karya-karya besar selanjutnya. Semoga Allah SWT, memberikan kekuatan dan memberkati kita semua. Amin.

Wassalamualaikumwarakhmatullahiwabarokatuh.

1

Pulau Cangkir dan Pulau Laki

 

Suara deru ombak pantai menemani malam kami bersama seorang muzawir (pengurus makam Pangeran Jaga Lautan) di pulau cangkir. Sebuah pulau kecil yang kini terhubung dengan daratan kronjo Tangerang. Pulau ini dahulu terpisah dari pulau utamanya. Tetapi kini Pulau Cangkir sudah tampak menyatu dengan main land-nya, ini karena ada upaya swadaya masyarakat sekitar dan pengelola situs untuk membuat jalan penghubung dengan menggunakan urugan tanah pada tahun 1995 lalu untuk memudahkan peziarah memasuki pulau tersebut. Sebagai obyek wisata pantai, ”Pulau Cangkir merupakan obyek wisata ziarah karena di pulau ini terdapat makam Pangeran Jaga Lautan, yang ramai dikunjungi peziarah dari berbagai wilayah di Nusantara ini, dengan berbagai tujuan masing- masing.” kata Muzawir itu atau yang biasa dipanggil Ust. Juweni bercerita tentang asal muasal pulau tersebut, dan keberadaan sang Pangeran.

“Beliau sengaja ditempatkan Sultan Maulana Hasanuddin di daerah pesisir Kronjo yang pada masa itu menjadi jalur transportasi perdagangan antara Banten-Tirtayasa, Kronjo, Mauk, Cisadane-dan Jayakarta (sekarang menjadi Ibu Kota Negara, Jakarta . Dahulu, pulau ini terpisah dari daratan. Untuk mencapai pulau ini, kami harus menggunakan sampan. Baru beberapa tahun ini kemudian dibuatkan daratan untuk menyambungkan pulau ini dengan daerah Kronjo,” ujar Ust. Juweni, bak pemandu wisata.

Mendengar kisah sang pangeran, kami jadi teringat tentang Syehk Priok, di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, dan Syekh Jamaludin di Pelabuhan Merak. “Mengapa di hampir setiap pelabuhan terdapat makam yang dikeramatkan?” tanya kami dalam hati. Mungkinkah mereka ini awalnya adalah kepala pelabuhan, yang kebetulan punya ke

ahlian agama, dan mengajarkannya kepada penduduk sekitar.

Kami urai lagi cerita tentang penyebaran Islam di daerah pesisir yang kerap kami baca, atau kami dengar. Embah Priok, konon hadir di Tanjung Priok pada abad ke 17 dua abad setelah penguasaan Banten dari Wilayah Kerajaan Sunda Padjajaran oleh Sultan Maulana Yusuf. Saat itu Batavia berada dalam genggaman Kasultanan Banten. Sementara Pangeran Cangkir yang berjuluk Pangeran Jaga Lautan, konon mendiami pulau yang luasnya hanya sepetak sawah itu, atas perintah Sultan Mauna Hasanuddin Banten. Dan Syekh Jamaludin, adalah utusan Sultan Banten, yang juga dikenal sebagai pejuang perlawanan terhadap Portugis.

Kesamaan pola yang terlihat dari penguasaan pelabuhan-pelabuhan ter

sebut oleh para tokoh –kemungkinan ulama – yang kemudian dikeramatkan itu. Bahwa lautan harus dijaga secara seksama. Para tokoh lampau itu sadar benar pentingnya kelautan bagi Nusantara. Bahkan bisa jadi mereka di tempatkan di berbagai pulau kecil itu, bersama beberapa prajurit. Saat itu juga mungkin ada semacam kesepakatan atau konsensus dari para ulama dan Sultan, tentang pentingnya kekuatan maritim bagi kelangsungan penyebaran Islam.

Beberapa tahun lalu, ditemukan kerangka Gajah dan beberapa pernak-pernik seperti piring hiasan yang berasal dari Cina di desa ketapang, yang terletak di selatan Pulau Cangkir, menguatkan asumsi tersebut. Berbeda dengan pemerintahan Republik Indonesia yang abai terhadap hal itu.Dalam hal ini, kita patut berterimakasih kepada negara  Jiran, yang turut menyadarkan pentingnya kekuatan maritim bagi NKRI. Kita juga patut berterimakasih pada Gus Dur, yang sejak lama meneriakkan hal itu, terlebih di era pemerintahannya yang singkat, Dia meletakkan dasar-dasar kemaritiman RI.

Kalau saja waktu kami cukup luang, ingin juga mencari tahu tentang kemungkinan adanya peninggalan senjata-senjata yang biasanya kemudian dikeramatkan juga, atau menjadi semacam pusaka-pusaka peninggalan Pangeran Cangkir. Jika memang ada, maka kemungkinan strategi ekspansi laut oleh para ulama itu merupakan sebuah

konsensus, semakin besar.

Secara geografis, Pulau Cangkir merupakan pulau terdekat dengan daratan. Terletak di sebelah barat Desa Kronjo. Meski berada hampir di tengah laut, pulau itu masih terlihat kokoh dari jauh. Sementara daratan Kronjo sendiri mengalami abrasi di berbagai sisi. Jalan menuju ke pulau kecil itu juga cukup terjal. “Padahal ini termasuk daerah wisata di Tangerang,” kata Ust. Juweni. Bahkan mobil pribadi yang “ceper” tidak dapat masuk sampai kepulau Cangkir tersebut karena jalannya yang dipenuhi lubang yang dalam disana sini. Hal ini membuat kami sangat prihatin. Kawasan yang begitu indah tapi kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat.

Tak jauh dari Pulau Cangkir terdapat Pulau Laki. Letaknya di sebelah barat Pulau Cangkir. Konon Pulau Laki merupakan Gudang rempah-rempah milik VOC. Di sana, juga konon, terdapat beberapa gedung bekas peninggalan VOC. “Ada Night Club, atau semacam Bar nya juga loh, vila dan gudang. Tapi sekarang sudah kosong semua. Tak ada penduduk yang mau mendiami pulau itu,” ujarnya.

Lantas kenapa dinamai pulau Laki, dan di mana Pulau Ceweknya? Tanya ka

mi. “Mungkin karena di sana tempat kompeni ‘ngalakian’ awewe. Jadi para Cewek yang ditarik ke situ,” Kata ust. Juweni.

Hmmm,,, para Kompeni ternyata penganut Patrialkal juga. Mereka kurang

menghormati perempuan!

Cerita tentang pulau Laki menggelitik khayal kami. Kalau bangunan-bangunan di sana masih kokoh, mengapa tidak diberdayakan. Untuk tempat wisata horor misalnya. Semacam rumah hantu, yang menjual berbagai wisata pemicu adrenalin.

Lokalisasi tempat hiburan di Pulau Laki kami pikir lebih masuk akal, ketimbang tercecernya tempat hiburan itu, di area strategis, yang tak jauh dari pemukiman warga. Tapi khayalan ini harus kami sudahi, mengingat rendahnya komitmen dan apresiasi pemerintah terhadap aset-aset wisata. Jangankan merubah Pulau jadi aset wisata, menyediakan akses ke tempat wisata yang ada saja, pemerintah kesulitan. Yang ada, pemerintah kita paling jago menjual asetnya. Lihat saja Pulau Umang, atau Krakatau Steel (KS) yang diobral itu.

Waduh, bicara KS, jadi ingat dengan teman yang tinggal di Cilegon. Saat i

tu, kami sering mendapati berbagai tempat hiburan malam itu dipenuhi para remaja usia pelajar. Pengunjungnya kerap meluber hingga di pinggir jalan raya. Pemandangan yang bertolak belakang dengan gaya pemerintahannya, yang cenderung menjual dalil-dalil keagamaan untuk kepentingan politis. Kami sempat heran, para ulama di sana begitu vokal meneriakkan dukungan-dukungan politis bagi penguasa setempat, tapi terdiam, saat ditanya tentang gaya hidup bebas yang dianut masyarakatnya.

Konsekuensi industrialisasi Cilegon memang tak bisa memungkiri kehadiran tempat hiburan.Dan idealnya, gaya kepemimpinan di Cilegon meniru Alm. Ali Sadikin, yang berani untuk tidak bersikap munafik  dalam mengakui berbagai tempat maksiat itu sebagai aset daerah. Tidak bersikap momoyok, ngalebok (mencela, tapi memakan juga hasilnya).

2

Sekilas Sejarah Maulana Hasanuddin Banten

Beliau dilahirkan di Cirebon pada tahun 1479 M. Beliau adalah anak kedua perkawinan antara Syarief Hidayatullah dengan Nyi Kawung Putri Ki Gendheng Anten. Kemudian pada tahun 1526 M, pangeran Hasanuddin menikah dengan putri mahkota Sultan Trenggana (Nyi Ratu Ayu Kiran), setelah menikah beliau dinobatkan menjadi Sultan Banten pertama oleh Sultan Trenggana (Demak III) Pada tahun 1552 M setelah beliau berusia 73 tahun. Pada t

ahun 1570 beliau wafat di Banten dan jenazahnya dimakamkan disamping masjid Banten dalam usia 91 tahun (1479-1570).

Silsilah Waliyullah Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir :

  1. Maulana Hasanuddin menikah dengan Nyi Ayu Kirana mempunyai 3 orang     anak        yaitu :
    1. Ratu Fatima
    2. Pangeran Yusuf
    3. Pangeran Arya Jepara

  2. Maulana Hasanuddin dengan Ratu Indra Pura, mempunyai 1 orang anak yaitu :
    1. Pangeran Sabrang Wetan
  3. Maulana Hasanuddin dengan Putri Demak, mempunyai 4 orang anak yaitu :
    1. Pangeran Suniraras (Tanara)
    2. Pangeran Padjajaran.
    3. Pangeran Pringgalaya.
    4. Ratu Ayu Kamudarage.

  4. Maulana Hasanuddin dengan istri selirnya mempunyai 8 orang anak yaitu :
    1. Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir Kronjo.
    2. Ratu Keben.
    3. Ratu Terpenter.

    4. Ratu Wetan.
    5. Ratu Biru.
    6. Ratu Ayu Arsanengah.
    7. Pangeran Padjajaran Wadho.
    8. Tumenggung Walatikta.

Silsilah ini sudah diakui dan dikukuhkan oleh para Nasab (keturunan) Waliyullah Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir.

3

Peninggalan Sejarah Pulau Cangkir

Disekitar makam keramat waliyullah Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir terdapat beberapa peninggalan sejarah yang sampai saat ini masih dijaga kelestariannya oleh warga sekitar. Salah satu diantaranya adalah ”Gentong Air Manakib Syeikh Abdul Qodir Jailani”. Karomah dari air gentong ini adalah meskipun berada diteng

ah laut tapi airnya tidak terasa asin sama sekali seperti air laut yang ada pada umumnya. Dan air ini juga tidak pernah surut meskipun tiap hari diambil dan digunakan baik oleh warga sekitar maupun para peziarah yang setiap harinya datang kepulau Cangkir tersebut. Dan air Gentong ini dipercaya  memiliki banyak manfaat. Ada yang menggunakannya sebagai obat penyembuh berbagai penyakit dan ada juga yang menggunakannya untyuk cuci muka agar awet muda.Meskipun masih mitos, tapi warga setempat dan para peziarah mempercayai hal tersebut.

Para peziarah juga percaya jika kita berziarah dan mengirimkan doa kepada pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir, maka semua permintaannya insya Allah akan terkabulkan atas izin Allah.

”Tapi kalau kita salah niat yang ada malah bisa membuat kita menjadi musyrik.” ujar Ust. Juweni.

4

Makam Keramat Pangeran Jaga Lautan Pulau Cangkir

 

            Di dalam Pulau Cangkir terdapat banyak makam tetapi hanya satu yang di kramatkan oleh warga sekitar dan juga para peziarah.. Makam itu adalah makam Syeck Waliyudin yang sering di sebut dengan Pangeran Jaga Laut. Yang pada masanya beliu datang ke Pulau Cangkir untuk menyebarkan agama Islam didaerah tersebut.

Karena di kramatkan seringkali Pulau Cangkir di padati oleh peziarah yang sengaja untuk mendoakan Pangeran Jaga Laut. Tidak hanya hari-hari biasa tetapi hari-hari besar seperti awa

l bulan Muharam peziarah sengaja datang ke makam tersebut.

5

Pantai Pulau Cangkir

Bau amis ikan yang menyengat tidak mematahkan semangat kami untuk menuju ke Pulau Cangkir, karena setelah kami sampai disana kami diberikan suasana pemandangan yang indah, terbantangnya lautan, hembusan angin yang ringan, dan suara deburan ombak, yang berirama yang membuat kami tetap lebih bersemangat. Pulau Cangkir yang memiliki luas 2,5 hektar merupakan salah satu dektinasi bahari di Kabupaten Tangerang. Pulau Cangkir adalah pulau yang di kelilingi oleh pasir putih dan hamparan pantai yang landai. Karena letaknya yang berada di tengah laut, para pengunjung yang datang tidak hanya sengaja berziarah kemakam Pangeran Jaga Laut saja, tapi juga datang untuk berenang, memancing di sebuah tambak ikan, dan disana juga di sediakan sarana penyewaan perahu untuk berlayar ke pulau Seribu.

Lataknya Pulau Cangkir yang berada di tengah laut, warga sekitar yang tinggal di sana sebagaian besar bermata pencaharian sebagai nelayan. Itu terlihat ketika kita dalam perjalanan menuju ke Pulau Cangkir, di sekeliling kami banyak perahu-perahu yang sedang berlayar atau pun parkir dan juga tambak-tambak yang membentang. Karena letaknya yang di laut, Pulau Cangkir terancam abrasi

 

6

PULAU CANGKIR TERANCAM ABRASI

Abrasi pantai dapat memberikan permasalahan yang sangat besar bagi kita, terlebih jika tingkat abrasi sudah parah, dikutip dari kompas (11/11/08) yang menyatakan bahwa tingkat abrasi (pengikisan) Pantai Tangerang hingga kini mencapai 51 persen dari total keseluruhan, yaitu 51 kilometer. Hal ini disebabkan oleh arus pantai yang cukup deras, tanggul penahan air yang lemah, kurangnya lahan hutan bakau, serta sisa-sisa eksplorasi pasir laut liar yang terjadi sekitar 3-5 tahun lalu. Dengan pembangunan tempat wisata yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan akan memperparah abrasi pantai tersebut, tempat wisata di Pulau Cangkir misalnya terjadi penyusutan luas pulau tersebut, di tempat wisata Pantai Sanglira Karangserang merupakan lokasi yang paling parah terkena dampak abrasi, tempat tersebut memang jarang sekali vegetasi dan ditambah adanya penambangan pasir. Menurut data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Kabupaten Tangerang yang dikutip dari pada tahun 2001, abrasi di Karangserang sudah mencapai 3 kilometer sepanjang tepi pantai. Kejadian serupa juga terjadi di Kampung Garapan, Dusun Bakau Tinggi, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Namun di kawasan ini, abrasi terjadi karena pembabatan hutan mangrove (bakau) untuk dijadikan tambak. Menurut pengamatan, abrasi pantai terjadi sepanjang satu kilometer, apalagi ombak besar telah menelan 20-100 meter pantai di Kampung Garapan. Banyak rumah penduduk yang akhirnya harus dipindahkan. Kampung Garapan sendiri sekarang dihuni oleh 390 kepala keluarga. Seperti yang dilaporkan Koran Jakarta (12/11/09) aneka tumbuhan seperti pohon kelapa dan tanaman pelindung lainnya tumbang dan hanyut terbawa ombak karena lahan sekitar terus-menerus dihantam gelombang. Demikian pula gedung SDN Tanjung Kait, Mauk, terancam rubuh karena dinding kelas sudah mulai dekat dengan bibir pantai, padahal ketika dibangun jaraknya relatif jauh dari pantai dan dianggap aman dari ganasnya ombak. Akibat abrasi, sebuah lapangan sepakbola di Desa Karang Serang, Kecamatan Sukadiri hilang ditelan air.

LAMPIRAN

 

  1. 1.     DATA PUSTAKA

Narasumber :

Nama           : Ust. Juweni

TTL            : Tangerang, 6 Juni 1956

Alamat         : Kronjo, Kontang

Pekerjaan     : Koordinator Muzawwir

Daftar Pustaka

-         Muzawwir

-         http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2010/11/09/pulau-cangkir-pulau-laki-cerita-tentang-kemaritiman-banten/

-         Tempat wisata Pulau Cangkir

-         http://shadambgt.wordpress.com/2010/04/23/observasi-abrasi-pantai-pulau-cangkir-dan-pantai-utara-kab-tangerang

sebagai-dampak-pembangunan-wisata-bahari-dan-pembukaan-tambak/

-        http://aci.detik.com/read/2010/08/18/134553/1422587/962/pantai-pulau-cangkir

-        http://megapolitan.kompas.com/read/2010/12/07/1729232/Pulau.Cangkir.Dipadati.Peziarah

-       bantenculturetourism.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: